Dampak kemiskinan ppkm1

Bank Dunia : Ekonomi Indonesia Turun Kelas

Liputan.Online – Berdasarkan laporan Bank Dunia, Kamis (8/7/2021), Indonesia, Mauritus, Rumania, dan Samoa kini berada di peringkat mereka pada 2019. Negara-negara ini terdampak pandemi Covid-19 sehingga mengalami penurunan GNI per kapita.

Dalam klasifikasi terbaru edisi Juli 2021, pendapatan nasional bruto (Gross National Income/GNI) per kapita Indonesia ada di US$ 3.870. Turun dibandingkan posisi Juli 2020 yaitu US$ 4.050. Penurunan GNI per kapita sekaligus membuat Indonesia kini berstatus negara berpendapatan menengah-bawah. Turun kelas dari sebelumnya negara berpendapatan menengah-atas.

Penyebab utama penurunan kelas yang dialami Indonesia adalah meningkatnya laju pertumbuhan kasus Covid-19. Sehingga terbukti dapat memiskinkan rakyat Indonesia.

Baca juga : Dampak Kemiskinan PPKM

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2021, ada 19,1 juta penduduk usia kerja yang terdampak pandemi virus corona dengan rincian sebagai berikut:
• 1,62 orang menjadi pengangguran.
• 0,65 juta menjadi bukan angkatan kerja.
• 1,11 juta orang sementara tidak bekerja.
• 15,72 juta orang bekerja dengan pengurangan jam kerja.

Kemiskinan di Indonesia

Gangguan di pasar tenaga kerja pada akhirnya akan berdampak kepada angka kemiskinan. Per September 2020, BPS mencatat jumlah penduduk miskin mencapai 27,55 juta orang, bertambah 2,76 juta orang dari periode yang sama tahun sebelumnya. Ini adalah yang tertinggi sejak Maret 2017.

Dengan semakin meningkatnya laju pertubuhan kasus baru dan kematian akibat Covid-19, membawa pemerintah merevisi outlook dari perekonomian Indonesia. Tadinya pemerintah Republik Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai hingga 8,3% dan keseluruhan tahun 2021 mencapai 5% di ekonomi kuartal II. Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimistis pertumbuhan ekonomi masih akan berada di atas level 7% yoy pada kuartal II.

Selanjutnya pemerintah RI memperkirakan akan ada dua skenario yang dimungkinkan bisa terjadi. Skenario tersebut antara lain:

Pertama, skenario moderat pemerintah memproyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal III bisa di atas 5% dan sepanjang tahun 2021 bisa mencapai 4,5%. Skenario ini bisa terjadi bila lonjakan kasus Covid bisa dikendalikan. Sehinga akhir Juli dan Agustus mulai normal kembali untuk melanjutkan tren pemulihan sebelumnya.

Kedua, pertumbuhan ekonomi kuartal III hanya bisa berada di kisaran 4%-4,6% dan 3,7% keseluruhan tahun. Di mana dalam skenario ini lonjakan kasus terjadi hingga Agustus dan pemerintah harus tetap menurunkan mobilitas hingga 50%. (lipe1482)

Artikel serupa : Fakta Terbaru WB: Ekonomi RI Tak Meroket, Tapi Turun Kelas di cnbcindonesia.com