Adat basandi Syarak

Sumpah Sati Bukik Marapalam

Liputan.Online – Islam dan Minangkabau adalah ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Sehingga dapat diistilahkan “tak Islam maka tak Minang”. Artinya orang Minang haruslah beragama Islam. Maka apabila orang Minang keluar dari agama Islam, maka bisa dikatakan hilanglah statusnya sebagai orang minangkabau.

Kentalnya agama Islam dalam masyarakat Minangkabau tidak terlepas dari falsafah budaya yang berbunyi “Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah, Syarak mangato Adat mamakai”. Artinya apapun yang terkait dengan hal adat budaya Minangkabau haruslah beradasarkan kepada Kitabullah. Dalam hal ini adalah Al Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam. Dan apapun yang diatur dalam Al Qur’an dan Hadist tersebut hendaklah dapat diterapkan dalam kehidupan adat budaya masyarakat Minangkabau.

Adat basandi syarak

Falsafah ini dikenal dengan “Sumpah Sati Bukik Marapalam”. Yaitu kesepakatan antara Kaum Adat dan Kaum Agama Kaum Ulama yang lebih dikenal dengan kaum Paderi. Kaum Paderi menginginkan agar Pemerintahan Kerajaan Pagaruyuang masa itu menerapkan Syari’at Islam dalam adat, budaya dan kehidupan masyarakat Minangkabau.

Baca juga : Asal Usul Suku Minangkabau

Dalam kesepakatan ini, Kaum Paderi diwakili oleh Syeh Burhanuddin dan Kaum Adat diwakili oleh Basa Ampek Balai Titah Sungai Tarab. Perjanjian tersebut turut dihadiri oleh Rajo Alam sebagai Perwakilan dari Pihak Kerajaan Pagaruyuang.

Peristiwa ini terjadi di tahun 1403 H/1837M di Bukit Pato, Tanah Datar. Namun kaum cerdik pandai dan pemuka masyarakat Minangkabau menyebut kesepakatan ini dengan “Sumpah Sati Bukik Marapalam”. Karena tujuan pertemuan ini dalah untuk “merapatkan alam”. Artinya, pertemuan tersebut dilakukan untuk menyatukan perbedaan pendapat dan pemikiran antara kaum adat dan kaum agama atau pederi dalam hal tatanan hidup masyarakat di Alam Minangkabau.

Baca juga : DASAR KEPEMIMPINAN DI MINANGKABAU

Peranan Syeh Burhanuddin Dalam Penerapan “Adat Basandi Syarak”

Terjadinya kesepakatan ini tidak terlepas dari usaha dan perjuangan Syeh Burhanuddin beserta saudara seperguruan. Setelah berguru kepada Syeh Abdul Rauf di Singkil, Aceh, Syeh Burhanuddin beserta saudara seperguruannya diperintahkan untuk mensyiarkan Agama Islam di Minangkabau. Mereka mengajarkan ilmu yang mereka peroleh di Aceh kepada masyarakat di kampung halaman.

Adat basandi syarak

Usaha dalam mensyiiarkan agama islam ini terus dievaluasi perkembangannya setiao tahun, Masyarakat Minangkabau menerima agama islam dengan damai dan berkembang luas di Alam Minangkabau. Namun, setelah 10 tahun megajarkan ajaran Agama Islam, Syeh Burhanuddin dan saudara seperguruannya mellakukan evaluasi atas apa yang telah mereka usahakan. Pada masa itu, sekalipun Agama Islam terus berkembang, namun adat, budaya dan lelaku masyarakat masih belum menerapkan ajaran Islam.

Dengan kondisi tersebut, Syeh Burhanuddin dan saudara seperguruannya merasa perlu untuk melakukan pendekatan dengan penghulu-penghulu adat dan berupaya untuk membuat kesepakatan agar menyelaraskan aturan adat, budaya dan lelaku masyarakat dengan ajaran yang terkandung dalam Agama Islam. (lipe1482)

Artikel Serupa : Setelah 1403 Masehi, Sumpah Sati Bukik Marapalam Kembali Dikukuhkan di harianhaluan.com